"Penyesalan di Ujung Senja"

Langit sore itu memantulkan cahaya oranye yang lembut. Burung-burung kembali ke sarang, sementara suara azan magrib menggema dari kejauhan. Di sebuah rumah besar yang sepi di pinggiran kota, duduklah seorang lelaki tua bernama Rahman. Tubuhnya kurus, rambut memutih, tangan bergetar pelan ketika ia meraih cangkir teh hangat di meja kecil.

Rumah itu megah, tapi kosong. Sunyi, hanya terdengar detak jam dinding yang lambat seolah mengejek sisa waktu yang dimilikinya.

Rahman menatap foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto itu diambil lebih dari tiga puluh tahun lalu. Ia berdiri gagah dengan jas hitam, istrinya—Aisyah—tersenyum anggun, dan tiga anak mereka masih kecil, duduk di pangkuan orang tuanya. Saat itu, hidup terasa sempurna. Namun, kini foto itu hanya menjadi saksi dari sesuatu yang tak pernah ia jaga dengan benar.

Masa Lalu yang Terlupakan

Dulu, Rahman adalah seorang pekerja keras. Ia bekerja di sebuah perusahaan besar, naik jabatan dengan cepat karena ketekunan dan ambisinya. Namun, setiap pencapaian selalu membuatnya ingin lebih.
“Sedikit lagi, maka aku akan bisa membahagiakan keluarga,” begitu pikirnya setiap kali pulang larut malam.

Namun, kebahagiaan yang ia maksud berbeda dengan apa yang dibutuhkan keluarganya.

“Ayah, besok ada pentas seni di sekolah. Bisa datang ya?” tanya anak sulungnya, Fikri, ketika masih SD.
“Ah, ayah sibuk, Nak. Lain kali saja, ya. Belajarlah yang rajin.”

“Mas, temani makan malam dulu. Anak-anak kangen,” pinta istrinya suatu malam.
Rahman hanya melirik jam tangannya. “Nanti, Yah. Aku harus ke kantor lagi, ada rapat penting.”

Dan begitulah seterusnya. "Nanti" menjadi kata yang selalu ia ucapkan, sampai akhirnya waktu benar-benar pergi.

Kini, di Ujung Senja

Anak-anak Rahman kini sudah dewasa dan sukses. Fikri menjadi dokter, anak keduanya, Dina, bekerja di luar negeri, sementara si bungsu, Reza, menjadi pengusaha. Mereka semua berhasil, tapi jarang pulang.

Hari itu, Rahman mencoba menghubungi Dina lewat telepon. Suaranya bergetar, “Nak, kapan kau pulang? Ayah kangen.”
Di seberang, terdengar suara terburu-buru. “Ayah, maaf ya, pekerjaan Dina lagi banyak. Nanti kalau ada cuti, Dina pulang.”
Klik. Sambungan terputus.

Rahman terdiam. Cangkir tehnya kini dingin. Air mata yang ia tahan akhirnya jatuh juga.

Malam semakin larut. Ia duduk sendirian di ruang keluarga. Tatapannya kosong, pikirannya kembali ke masa lalu. Saat itu ia membayangkan jika saja dulu ia mendengar permintaan sederhana anak-anaknya. Jika saja ia menunda satu rapat untuk menghadiri pentas seni. Jika saja ia menutup laptop lebih cepat demi makan bersama keluarga.

Namun semua hanya “jika saja”.

Penyesalan yang Terlambat

Suatu sore, Rahman berbicara dengan tetangganya yang juga sudah tua.
“Man, kau ini rumahnya besar, hartamu banyak, tapi kenapa wajahmu selalu murung?” tanya tetangganya, Pak Hamid.

Rahman tersenyum pahit. “Apa gunanya harta, Hamid, kalau aku tak punya waktu bersama orang-orang yang kucintai? Istriku sudah tiada, anak-anakku sibuk dengan hidup mereka. Aku dulu pikir uang bisa menggantikan segalanya. Ternyata salah besar.”

Hamid menepuk bahunya. “Aku tidak sekaya kamu, Man. Tapi anak-anak selalu pulang tiap minggu, rumahku selalu ramai. Mungkin itulah rezeki yang sebenarnya.”

Rahman terdiam, dadanya terasa sesak. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk.

Pelajaran Hidup

Di usianya yang senja, Rahman akhirnya sadar. Waktu adalah harta paling berharga. Jabatan bisa hilang, uang bisa habis, tetapi kenangan bersama keluarga akan selalu hidup dalam hati. Sayangnya, ia baru benar-benar mengerti setelah semuanya terlambat.

Malam itu, ia menulis surat untuk anak-anaknya. Tulisan tangannya bergetar:

“Anak-anakku, maafkan ayah. Ayah terlalu sibuk mengejar dunia, hingga lupa bahwa kalianlah dunia yang sebenarnya. Jangan ulangi kesalahan ayah. Sisihkan waktumu untuk keluarga, karena pada akhirnya, bukan harta yang menemanimu di hari tua, melainkan kasih sayang mereka.”

Rahman menutup surat itu dengan air mata. Ia tahu, mungkin anak-anaknya baru akan membacanya setelah ia tiada.

Langit pagi perlahan terang. Burung berkicau menyambut hari baru, sementara di dalam rumah besar itu, Pak Rahman duduk di kursinya, matanya terpejam damai, dengan senyum tipis di wajahnya—seakan beban penyesalan itu akhirnya ia lepaskan.

Surat yang ditulis Pak Rahman malam itu tidak langsung ia kirimkan. Ia simpan di meja kamarnya, berharap suatu saat anak-anaknya membacanya. Hatinya lega, seolah sebagian beban telah ia lepaskan.

Beberapa hari kemudian, tanpa ia sangka, Dina pulang dari luar negeri. Ia muncul tiba-tiba di depan pintu rumah, membawa koper dan senyum haru.
“Ayah…” ucapnya lirih.

Pak Rahman hampir tak percaya. “Dina? Kau benar-benar pulang?” Suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.
Dina berlari memeluk ayahnya. “Maafkan Dina, Yah. Dina terlalu sibuk mengejar karier, padahal yang paling penting adalah Ayah.”

Tak lama kemudian, Fikri dan Reza juga datang. Rupanya, Dina menghubungi mereka setelah menerima telepon terakhir dari ayahnya. Mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres, dan tanpa banyak bicara, mereka sepakat untuk pulang.

Hari itu, rumah besar yang selama ini sunyi akhirnya kembali ramai. Suara tawa, cerita masa kecil, bahkan tangisan penyesalan bercampur jadi satu.

Pak Rahman duduk di kursinya, menatap ketiga anaknya yang kini sudah dewasa, namun tetap anak-anak kecil di hatinya.
“Anak-anakku,” ucapnya dengan suara parau, “Ayah menyesal tidak ada di saat kalian butuh. Tapi sekarang Ayah tak minta apa-apa lagi. Cukup kalian ada di sini, itu sudah lebih berharga dari semua harta yang Ayah punya.”

Fikri menggenggam tangan ayahnya. “Ayah, jangan bicara begitu. Kami yang seharusnya berterima kasih. Tanpa kerja keras Ayah, kami tak akan jadi seperti sekarang. Kami hanya ingin sisa waktu Ayah penuh kebahagiaan, bukan penyesalan.”

Air mata Rahman jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena bahagia. Ia merasa Tuhan memberinya kesempatan kedua—bukan untuk mengulang waktu yang hilang, tetapi untuk mengisi hari-hari terakhir dengan cinta yang sempat terabaikan.

Sejak hari itu, anak-anaknya bergiliran tinggal bersamanya. Rumah besar itu kembali hidup. Setiap malam ada suara canda, setiap pagi ada aroma sarapan yang hangat. Dan setiap kali duduk di teras menatap langit senja, Pak Rahman selalu berbisik dalam hati:

“Terima kasih, Tuhan. Aku diberi kesempatan menutup hidupku dengan kebahagiaan yang dulu sempat aku sia-siakan.”


✨ Dengan begitu, cerita yang awalnya penuh penyesalan berubah menjadi pengingat bahwa masih ada waktu untuk memperbaiki—asal ada keikhlasan, cinta, dan keberanian untuk kembali kepada keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Cerita Saat Membantu Orang Lain dan Bagaimana Itu Mengubahku"

Hari itu matahari sudah condong ke barat, jalanan kota mulai padat oleh kendaraan pulang kerja. Aku berjalan pelan di trotoar, lelah setelah...