"Dari Ejekan Menjadi Kebanggaan"

 🌱 Awal Kehidupan

Zidan adalah anak lelaki berusia 9 tahun yang tinggal di sebuah kampung kecil. Ayahnya sudah lama meninggal karena sakit, sehingga ibunya, Bu Salma, berjualan sayur di pasar untuk menyambung hidup. Rumah mereka sangat sederhana, hanya berdinding bambu dan beratap seng bocor.

Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Zidan membantu ibunya mengangkat keranjang sayur. Bajunya sering bau tanah, sepatunya robek, dan rambutnya kusut. Saat di sekolah, penampilannya menjadi bahan tertawaan teman-temannya.

“Eh, si Zidan anak miskin datang!”
“Sepatunya kayak mau pecah, wkwk!”
“Ngapain sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ujung-ujungnya jualan sayur kayak ibunya!”

Zidan hanya menunduk. Matanya panas menahan air mata, tapi ia tidak pernah membalas. Dalam hati ia selalu berkata,
“Ya Allah, kuatkan aku. Aku ingin jadi orang yang berguna, bukan bahan hinaan.”


📚 Cinta Belajar di Tengah Kekurangan

Meski sering dibully, Zidan punya semangat luar biasa. Ia sadar, hanya dengan ilmu ia bisa mengubah nasibnya dan membahagiakan ibunya.

  • Malam hari, ia belajar dengan cahaya lampu minyak karena listrik rumahnya sering padam.

  • Buku-buku bekas ia kumpulkan dari teman dan tetangga. Jika tidak ada kertas, ia menulis di belakang bungkus rokok atau kertas bekas belanja ibunya.

  • Ia rajin ke masjid untuk mengaji, karena ia ingin menjaga hatinya tetap bersih meski setiap hari disakiti.

Suatu malam, ibunya mendekatinya saat ia belajar.
“Nak, apa kamu tidak capek? Ibu takut kamu terlalu lelah.”

Zidan tersenyum,
“Ibu, aku tidak boleh capek belajar. Aku ingin suatu hari bisa mengangkat derajat ibu. Allah kan berjanji, ‘Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat’ (QS. Al-Mujadilah: 11).”

Bu Salma pun menangis terharu.


⚡ Puncak Bullying

Saat kelas 6 SD, Zidan terpilih mewakili sekolah dalam lomba matematika tingkat kecamatan. Namun, bukannya mendapat dukungan, ia justru diejek.

“Ngapain kirim Zidan? Mana bisa dia menang!”
“Kalau kalah, jangan malu-maluin sekolah ya, Din!”

Ucapan itu menusuk hatinya. Malam sebelum lomba, Zidan menangis di sajadah. Ia berdoa lama,
“Ya Allah, Engkau tahu hatiku. Aku tidak ingin jadi bahan hinaan lagi. Tolong beri aku kekuatan, bukan untuk sombong, tapi agar aku bisa membahagiakan ibu dan membuktikan bahwa Engkau Maha Adil.”

Keesokan harinya, dengan izin Allah, Zidan berhasil menjadi juara satu. Guru-gurunya bangga, tapi teman-teman yang dulu mengejek masih belum berhenti.
“Halah, paling juga cuma hoki!”

Zidan sadar, perjalanan masih panjang.


🌟 Masa Remaja: Tetap Tegar

Memasuki SMP, bullying tidak berhenti. Bahkan, ejekan semakin keras. Ia sering dipanggil “anak miskin”, “bau pasar”, bahkan ada yang sengaja menyembunyikan bukunya.

Pernah suatu kali, sepatunya benar-benar sobek ketika hujan deras. Saat itu, semua anak tertawa. Zidan menahan air mata, sampai seorang guru agama, Pak Fikri, memanggilnya.

“Zidan, jangan malu. Sepatu bisa robek, tapi iman dan ilmu tidak bisa diambil orang. Ingatlah, sabar itu kunci. Suatu hari, orang-orang yang menertawakanmu justru akan bangga padamu.”

Kata-kata itu membuat hati Zidan tenang.


🕌 Pegangan Iman dan Doa

Setiap malam, Zidan memperbanyak sholat tahajud. Ia merasa hanya Allah tempat ia mengadu. Kadang ia berbisik dalam sujudnya,
“Ya Allah, aku lelah. Tapi aku tidak boleh menyerah. Aku ingin menjadi bukti bahwa sabar itu indah.”

Selain itu, ia rajin bersedekah, meski hanya dengan recehan. Ia percaya, sedekah bisa membuka pintu rezeki.


🌤️ Perubahan yang Mulai Terlihat

Perlahan, usaha Zidan membuahkan hasil. Ia selalu menjadi juara kelas, hingga mendapat beasiswa ke SMA favorit di kota. Anak-anak yang dulu mengejek mulai heran.

“Eh, si Zidan beneran masuk SMA unggulan?”
“Gila, padahal dulu kita kira dia bakal berhenti sekolah!”

Meski begitu, Zidan tetap rendah hati. Ia tidak pernah membalas dendam, justru semakin rajin menolong teman-temannya yang kesulitan belajar.


🎓 Jalan Menuju Kesuksesan

Dengan kerja keras, Zidan diterima di universitas ternama jurusan kedokteran lewat jalur beasiswa. Perjalanan kuliah tidak mudah:

  • Ia sering makan hanya dengan tempe dan nasi agar hemat.

  • Ia bekerja paruh waktu sebagai penjaga perpustakaan.

  • Tapi ia tetap rajin belajar dan menjaga sholat lima waktu.

Setelah bertahun-tahun, akhirnya Zidan lulus dengan predikat cumlaude.


🌟 Kembali dengan Kebanggaan

Hari wisuda, Bu Salma hadir dengan mata berkaca-kaca. Saat melihat anaknya memakai toga, ia berbisik,
“Ya Allah, Engkau telah menjawab doa-doa malamku.”

Beberapa tahun kemudian, Zidan pulang ke kampung sebagai seorang dokter muda. Ia membuka klinik gratis untuk masyarakat miskin. Orang-orang kampung yang dulu mengejeknya kini berbaris mengantri, meminta tolong padanya.

Salah satu teman lamanya mendekat dengan wajah penuh penyesalan,
“Zidan, maafkan aku. Dulu aku sering mengejekmu. Tapi ternyata kamulah yang sekarang paling bermanfaat.”

Zidan tersenyum dan berkata,
“Tidak apa-apa. Justru aku berterima kasih. Karena ejekan kalian, aku belajar untuk sabar dan tidak menyerah. Ingatlah, rezeki dan derajat datang dari Allah, bukan dari ejekan manusia.”


✨ Penutup

Kisah Zidan mengajarkan kita bahwa bullying bukanlah akhir dari segalanya. Dengan sabar, doa, kerja keras, dan keimanan, ejekan bisa menjadi bahan bakar menuju kesuksesan.

Zidan membuktikan bahwa anak yang dulu dipandang rendah bisa menjadi penolong banyak orang. Dan benar sabda Nabi ﷺ:
“Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)


🌸 Hikmah: Jangan pernah remehkan orang lain hanya karena penampilan atau keadaan. Bisa jadi orang yang kita hina hari ini, esok menjadi orang yang paling kita butuhkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Cerita Saat Membantu Orang Lain dan Bagaimana Itu Mengubahku"

Hari itu matahari sudah condong ke barat, jalanan kota mulai padat oleh kendaraan pulang kerja. Aku berjalan pelan di trotoar, lelah setelah...