🌱 Awal Kehidupan
Zidan adalah anak lelaki berusia 9 tahun yang tinggal di sebuah kampung kecil. Ayahnya sudah lama meninggal karena sakit, sehingga ibunya, Bu Salma, berjualan sayur di pasar untuk menyambung hidup. Rumah mereka sangat sederhana, hanya berdinding bambu dan beratap seng bocor.
Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, Zidan membantu ibunya mengangkat keranjang sayur. Bajunya sering bau tanah, sepatunya robek, dan rambutnya kusut. Saat di sekolah, penampilannya menjadi bahan tertawaan teman-temannya.
📚 Cinta Belajar di Tengah Kekurangan
Meski sering dibully, Zidan punya semangat luar biasa. Ia sadar, hanya dengan ilmu ia bisa mengubah nasibnya dan membahagiakan ibunya.
-
Malam hari, ia belajar dengan cahaya lampu minyak karena listrik rumahnya sering padam.
-
Buku-buku bekas ia kumpulkan dari teman dan tetangga. Jika tidak ada kertas, ia menulis di belakang bungkus rokok atau kertas bekas belanja ibunya.
-
Ia rajin ke masjid untuk mengaji, karena ia ingin menjaga hatinya tetap bersih meski setiap hari disakiti.
Bu Salma pun menangis terharu.
⚡ Puncak Bullying
Saat kelas 6 SD, Zidan terpilih mewakili sekolah dalam lomba matematika tingkat kecamatan. Namun, bukannya mendapat dukungan, ia justru diejek.
Zidan sadar, perjalanan masih panjang.
🌟 Masa Remaja: Tetap Tegar
Memasuki SMP, bullying tidak berhenti. Bahkan, ejekan semakin keras. Ia sering dipanggil “anak miskin”, “bau pasar”, bahkan ada yang sengaja menyembunyikan bukunya.
Pernah suatu kali, sepatunya benar-benar sobek ketika hujan deras. Saat itu, semua anak tertawa. Zidan menahan air mata, sampai seorang guru agama, Pak Fikri, memanggilnya.
“Zidan, jangan malu. Sepatu bisa robek, tapi iman dan ilmu tidak bisa diambil orang. Ingatlah, sabar itu kunci. Suatu hari, orang-orang yang menertawakanmu justru akan bangga padamu.”
Kata-kata itu membuat hati Zidan tenang.
🕌 Pegangan Iman dan Doa
Selain itu, ia rajin bersedekah, meski hanya dengan recehan. Ia percaya, sedekah bisa membuka pintu rezeki.
🌤️ Perubahan yang Mulai Terlihat
Perlahan, usaha Zidan membuahkan hasil. Ia selalu menjadi juara kelas, hingga mendapat beasiswa ke SMA favorit di kota. Anak-anak yang dulu mengejek mulai heran.
Meski begitu, Zidan tetap rendah hati. Ia tidak pernah membalas dendam, justru semakin rajin menolong teman-temannya yang kesulitan belajar.
🎓 Jalan Menuju Kesuksesan
Dengan kerja keras, Zidan diterima di universitas ternama jurusan kedokteran lewat jalur beasiswa. Perjalanan kuliah tidak mudah:
-
Ia sering makan hanya dengan tempe dan nasi agar hemat.
-
Ia bekerja paruh waktu sebagai penjaga perpustakaan.
-
Tapi ia tetap rajin belajar dan menjaga sholat lima waktu.
Setelah bertahun-tahun, akhirnya Zidan lulus dengan predikat cumlaude.
🌟 Kembali dengan Kebanggaan
Beberapa tahun kemudian, Zidan pulang ke kampung sebagai seorang dokter muda. Ia membuka klinik gratis untuk masyarakat miskin. Orang-orang kampung yang dulu mengejeknya kini berbaris mengantri, meminta tolong padanya.
✨ Penutup
Kisah Zidan mengajarkan kita bahwa bullying bukanlah akhir dari segalanya. Dengan sabar, doa, kerja keras, dan keimanan, ejekan bisa menjadi bahan bakar menuju kesuksesan.
🌸 Hikmah: Jangan pernah remehkan orang lain hanya karena penampilan atau keadaan. Bisa jadi orang yang kita hina hari ini, esok menjadi orang yang paling kita butuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar