"Hari Pertama Meninggalkan Rumah untuk Kuliah dan Pelajaran yang Saya Dapat"

Pagi itu terasa berbeda dari biasanya. Udara desa masih segar, embun masih menempel di dedaunan, dan matahari baru saja muncul perlahan dari balik perbukitan. Namun, di dalam hati saya, ada sesuatu yang berat. Hari itu bukanlah pagi biasa. Itu adalah hari di mana saya akan meninggalkan rumah untuk waktu yang lama—hari pertama saya melangkah menuju kehidupan baru di kota lain untuk menempuh kuliah.

Pagi yang Penuh Haru

Saya bangun lebih awal dari biasanya, meskipun malam sebelumnya sulit tidur karena perasaan campur aduk. Di meja makan, ibu sudah menyiapkan nasi goreng sederhana dengan telur dadar—makanan kesukaan saya sejak kecil. Aroma yang begitu akrab itu justru membuat hati saya semakin berat. Setiap suapan terasa seperti sebuah perpisahan.

Ibu berulang kali mengingatkan, “Nanti kalau di sana jangan lupa makan, jangan terlalu sering begadang, dan jangan sungkan telepon kalau ada apa-apa.” Kalimat itu terdengar biasa, tetapi di dalamnya saya bisa merasakan betapa besar kasih sayang dan kekhawatiran seorang ibu.

Ayah duduk di samping, lebih banyak diam. Sesekali beliau menepuk bahu saya, memberi nasihat singkat, “Jaga diri baik-baik. Ingat tujuanmu ke sana.” Mungkin ia tidak ingin terlihat rapuh, tapi saya tahu, di balik ketenangannya ada perasaan yang sama—berat melepas anaknya pergi.

Adik saya yang masih kecil hanya menatap dengan wajah polos. Ia belum sepenuhnya mengerti arti kepergian ini, hanya tahu bahwa kakaknya tidak akan pulang setiap hari. Saat saya mencubit pipinya pelan, ia tersenyum, seolah ingin berkata, “Nanti cepat pulang, ya.”

Perjalanan Menuju Terminal

Setelah sarapan, saya menyiapkan tas besar yang sudah saya kemas sejak semalam. Baju, buku, dan sedikit peralatan pribadi. Rasanya aneh menyadari bahwa barang-barang sederhana itu akan menjadi teman saya untuk waktu yang lama di kota rantau.

Mobil keluarga membawa kami ke terminal. Sepanjang perjalanan, saya hanya terdiam, memandang keluar jendela. Jalanan desa yang biasa saya lewati tiba-tiba terasa berbeda. Sawah, pohon kelapa, rumah-rumah sederhana—semua tampak seperti ingin mengucapkan selamat jalan. Setiap sudut terasa penuh kenangan.

Di terminal, suasana ramai oleh orang-orang dengan tujuan masing-masing. Ada yang berangkat bekerja, ada yang pulang kampung, ada yang seperti saya—meninggalkan rumah untuk melanjutkan hidup. Jantung saya berdegup kencang ketika bus yang akan saya naiki tiba.

Saat Perpisahan

Inilah momen yang paling berat. Saya memeluk ibu erat-erat. Tubuhnya hangat, namun terasa gemetar. Air mata menetes di pipinya, dan suaranya bergetar saat berkata, “Belajar yang rajin ya, Nak. Jangan kecewakan Ibu dan Ayah.” Saya tidak bisa berkata banyak, hanya mengangguk sambil menahan tangis.

Ayah, dengan gaya khasnya yang tegar, hanya mengucap singkat, “Hati-hati.” Tapi dari sorot matanya, saya tahu ia sebenarnya tidak kalah haru.

Saya melangkah naik ke bus dengan langkah berat. Dari jendela, saya masih bisa melihat ibu melambaikan tangan, mencoba tersenyum meski matanya basah. Ayah berdiri tegak di sampingnya, sementara adik saya melompat-lompat sambil melambaikan tangan kecilnya. Pemandangan itu menancap kuat di hati saya, seakan menjadi foto abadi yang tidak pernah pudar dari ingatan.

Ketika bus mulai berjalan, rasa sesak menghantam dada. Ada perasaan kehilangan, rindu yang muncul bahkan sebelum benar-benar berpisah. Tapi di balik itu semua, ada juga semangat baru. Saya tahu, perjalanan ini adalah bagian dari proses pendewasaan.

Kehidupan Baru di Perantauan

Hari-hari pertama di kota rantau penuh tantangan. Saya harus belajar banyak hal: mencuci pakaian sendiri, memasak sederhana, mengatur keuangan agar tidak boros, hingga menghadapi rasa sepi di malam hari. Tidak ada lagi suara ibu yang membangunkan, tidak ada lagi tawa adik yang menemani. Semuanya harus saya hadapi seorang diri.

Namun, justru dari situ saya belajar arti kemandirian. Saya belajar bahwa rindu memang berat, tapi rindu juga menjadi pengingat cinta dan doa yang selalu menyertai langkah saya. Setiap kali merasa lelah, saya teringat wajah ibu di terminal, senyum ayah yang tegar, dan lambaian tangan kecil adik saya. Semua itu menjadi sumber kekuatan untuk terus maju.

Pelajaran yang Saya Dapat

Hari pertama meninggalkan rumah untuk kuliah adalah salah satu hari paling berkesan dalam hidup saya. Dari momen itu, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga:

  1. Kemandirian adalah proses, bukan hasil instan. Hidup jauh dari rumah memaksa saya belajar mengurus diri, mengatur waktu, dan bertanggung jawab.

  2. Doa orang tua adalah bekal paling berharga. Saya menyadari bahwa restu mereka adalah sumber kekuatan yang membuat langkah terasa lebih ringan.

  3. Perpisahan bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan baru. Meski terasa berat, justru dari keberanian meninggalkan zona nyaman lahir kedewasaan.

  4. Rindu adalah pengikat yang tak terlihat. Meski jauh, rindu membuat saya tidak pernah lupa asal usul, membuat saya semakin menghargai arti keluarga.

Penutup

Kini, setiap kali saya mengenang hari itu, hati saya selalu hangat. Meski penuh air mata, momen perpisahan itu mengajarkan saya arti keberanian, kasih sayang, dan kemandirian. Itu bukan sekadar hari biasa, melainkan titik balik yang membentuk diri saya hingga sekarang.

Hari pertama meninggalkan rumah untuk kuliah adalah hari yang membuat saya benar-benar mengerti: hidup adalah perjalanan, dan setiap langkah, sekecil apa pun, selalu berarti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Cerita Saat Membantu Orang Lain dan Bagaimana Itu Mengubahku"

Hari itu matahari sudah condong ke barat, jalanan kota mulai padat oleh kendaraan pulang kerja. Aku berjalan pelan di trotoar, lelah setelah...